Trend

“Bimbim Slank Sindir Musik AI: ‘Ketahuan Mana Manusia, Mana Mesin!’ Sambil Tantang Dhani & Once Fight Soal Royalti”

Jakarta – Gelombang kecerdasan buatan alias Artificial Intelligence (AI) sekarang juga mengusik dunia musik. Lagu-lagu digital dengan suara mirip penyanyi asli sudah berseliweran di YouTube dan TikTok. Sementara itu, panasnya polemik royalti di Tanah Air makin bikin suasana makin riuh. Di tengah gempuran isu ini, Bimbim Slank buka suara dengan gaya khasnya: santai, nyeleneh, tapi tetap menohok.

“AI itu teoritis, beda sama manusia. Kalau musisi main, dia bisa dinamis, bisa eksplorasi. Ketahuan mana yang bikin mesin, mana yang lahir dari hati,” tegas Bimbim dalam sebuah forum.

Musik AI: Asik Tapi Gak Punya Jiwa

Menurut drummer yang sudah empat dekade lebih jadi motor Slank itu, karya AI memang terdengar rapih. Algoritma bisa meramu teori musik, menebak pola lirik, hingga menciptakan nada yang enak di kuping. Tapi bagi Bimbim, ada satu hal yang gak bakal bisa ditiru: jiwa manusia.

Musik, kata dia, bukan sekadar kombinasi nada. Musik lahir dari pengalaman, luka, cinta, bahkan kegagalan. Itu yang bikin karya manusia selalu terasa hidup, meski kadang fals atau gak sempurna.

“Justru karena nggak sempurna, musik manusia itu jujur. Itu yang mau kita kasih lihat ke generasi sekarang. Life itu musik, bukan software,” ujar Bimbim.

Meski begitu, ia gak menolak keberadaan AI. Buatnya, teknologi bisa jadi lucu-lucuan. Variasi baru yang bikin industri musik lebih rame. Tapi ia ngasih catatan penting: jangan sampai publik menganggap musik buatan mesin sama nilainya dengan karya musisi yang berkeringat di studio dan panggung.

Royalti: Musisi Pecah Dua Kubu

Selain bicara soal AI, Bimbim juga menyinggung drama panas di dunia musik tanah air: royalti. Seperti diketahui, perdebatan makin keras setelah dua nama besar, Ahmad Dhani dan Once Mekel, terlibat adu argumen terbuka.

  • Kubu Dhani (AKSI) mendorong sistem direct license: penyanyi harus izin langsung ke pencipta lagu sebelum manggung, plus bayar royalti ke mereka.
  • Kubu Once (VISI) merasa aturan itu nggak realistis dan berpotensi memberatkan performer. Menurut mereka, sistem LMK (Lembaga Manajemen Kolektif) masih lebih masuk akal.

Hasilnya, dunia musik pecah jadi dua kubu. Ada yang pasang badan di belakang Dhani, ada juga yang membela Once, Armand Maulana, hingga Ariel Noah.


Bimbim: “Lu Berdua Fight Aja!”

Bagaimana sikap Slank? Lagi-lagi, Bimbim memilih jalur berbeda. Dia gak mau masuk ke kubu manapun. Bagi dia, Dhani dan Once sama-sama punya niat baik.

“Kalian berdua fight aja. Hasilnya pasti yang terbaik buat industri musik. Kita gak mau ikut campur sana-sini,” katanya santai.

Bimbim bahkan sempat menyebut royalti yang diterima Slank selama ini masih dianggap “uang jajan”. Bukan karena nominalnya besar atau kecil, tapi karena mereka gak menjadikannya sumber utama nafkah. Buat Slank, yang lebih penting adalah sistemnya bisa adil untuk musisi muda yang hidupnya bergantung penuh pada royalti.

AI & Royalti: Dua Isu yang Saling Nempel

Kalau dipikir-pikir, omongan Bimbim soal AI dan royalti punya benang merah. Masuknya AI ke industri musik justru makin memperumit soal pembagian hak cipta. Kalau sebuah lagu dibuat oleh AI, siapa yang berhak atas royalti? Programernya, platformnya, atau musisi yang karyanya jadi bahan belajar algoritma?

Pertanyaan ini makin relevan ketika royalti antar musisi aja belum beres. Belum ada sistem digital transparan yang bisa memastikan siapa dapat berapa. Kalau ditambah AI, bisa makin kacau.

Harapan Slank: Transparansi, Bukan Drama

Bimbim jelas gak mau ribut. Tapi ia menitipkan pesan penting: yang dibutuhkan sekarang bukan debat kusir, tapi regulasi jelas dan sistem transparan.

Revisi UU Hak Cipta harus mengakomodasi era digital, termasuk konser streaming dan musik AI. LMK juga mesti buka data real-time biar pencipta lagu bisa tahu karya mereka diputar di mana aja, berapa kali, dan berapa yang masuk ke kantong.

“Kalau semua transparan, gak ada lagi musisi saling curiga. Yang ada malah saling dukung,” ucapnya.

Kesimpulan: Antara Mesin, Musisi, dan Masa Depan

Di satu sisi, Bimbim mengingatkan publik bahwa musik AI itu cuma algoritma—enak didengar, tapi gak punya roh. Di sisi lain, ia juga ngasih sindiran halus ke rekan-rekannya: berhenti ribut, selesaikan masalah royalti dengan cara sehat.

AI mungkin bisa bikin lagu semalaman, tapi yang bikin orang jatuh cinta ke musik tetaplah manusia. Dan soal royalti, generasi musisi berikutnya butuh sistem yang adil, bukan drama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *