5 Fakta Menarik Tepuk Sakinah: Viral, Lirik & Makna Keluarga
Tepuk Sakinah Viral di KUA, dari Tren ke Makna Keluarga
Jakarta, 30 September 2025 — Tepuk Sakinah mendadak viral di media sosial setelah sejumlah Kantor Urusan Agama (KUA) memperagakan yel-yel edukatif ini dalam sesi bimbingan pranikah. Gerakan tepuk tangan berirama dengan lirik sederhana tersebut kini menjadi sorotan publik, tak hanya sebagai hiburan ringan tapi juga media penguatan nilai-nilai keluarga sakinah.
Apa Itu Tepuk Sakinah & Asal Usulnya
Menurut penjelasan Kementerian Agama (Kemenag), Tepuk Sakinah adalah inovasi kreatif dalam program Bimbingan Perkawinan (Bimwin) yang dirancang agar materi pranikah lebih interaktif dan mudah diingat. Gerakan ini berupa tepukan tangan yang dipadukan dengan yel-yel singkat berisi lima pilar keluarga sakinah: berpasangan, janji kokoh, saling cinta-hormat-jaga-ridho, dan musyawarah.
Fenomena Tepuk Sakinah ini ternyata sudah diperkenalkan sejak 2018 dalam workshop dan refleksi Bimwin, menurut penggagasnya seperti Prof Alimatul Qibtiyah. Republika Online Meskipun viral sekarang, Kemenag menekankan bahwa Tepuk Sakinah tidak bersifat wajib bagi calon pengantin. Fungsinya lebih sebagai ice breaking dan penguat ingatan terhadap pesan inti bimbingan perkawinan.
Lirik & Gerakan Tepuk Sakinah
Berikut lirik yang paling sering digunakan dalam Tepuk Sakinah:
Berpasangan, berpasangan, berpasangan (tepuk 3x)
Janji kokoh, janji kokoh, janji kokoh (tepuk 3x)
Saling cinta, saling hormat, saling jaga, saling ridho
Musyawarah untuk sakinah
Sebagian video viral menunjukkan calon pengantin dan petugas KUA melakukan gerakan tepuk tangan sesuai lirik di atas dengan penuh semangat. Gerakan ini lalu diulang agar materi lebih melekat dalam ingatan.
Momen Akad dengan Tepuk Sakinah
Belum lama ini, sebuah prosesi akad nikah viral karena pasangan pengantin melakukan Tepuk Sakinah bersama penghulu sebelum ijab kabul. Video ini ramai dibagikan dan menuai pujian atas kemeriahan dan kehangatan suasananya. Akting pengantin dan penghulu yang kompak dalam yel-yel tersebut mencuri perhatian publik karena menampilkan sisi humanis di tengah prosesi sakral.
Makna & Nilai yang Terkandung
Tepuk Sakinah bukan sekadar hiburan, melainkan sarana edukatif untuk menanamkan nilai-nilai penting dalam keluarga. Kelima pilar yang terkandung di dalamnya—zawaj, mitsaqan ghalidzan, mu’asyarah bil ma’ruf, musyawarah, dan taradhin—menjadi pesan inti agar calon pasangan memahami bahwa rumah tangga bukan hanya soal romantisme, tetapi juga tanggung jawab, komunikasi, toleransi, dan komitmen.
Para penggagas mengungkap bahwa gerakan ini dirancang agar calon pengantin dapat mudah mengingat pesan penting itu, terutama ketika menghadapi konflik dalam keluarga kelak.
Pernyataan dari Kementerian Agama
Dirjen Bimas Islam, Abu Rokhmad, menyatakan bahwa inovasi Tepuk Sakinah adalah bagian dari upaya menciptakan suasana bimbingan pranikah yang tidak kaku. “Melalui Tepuk Sakinah, pilar keluarga sakinah lebih mudah diingat dan suasana pembekalan menjadi lebih hidup.”Kemenag juga memperkenalkan GAS Nikah sebagai kelanjutan program edukatif dalam mendukung kesiapan lahir dan batin calon pengantin.
Sementara itu, penggagas Prof Alimatul Qibtiyah menuturkan bahwa gerakan ini awalnya lahir dari refleksi instruktur Bimwin dan bertujuan agar materi agama dan nilai keluarga disampaikan dengan cara yang menyenangkan dan mudah diterima.
Tantangan & Klarifikasi Fakta
Meskipun viral, muncul klaim bahwa calon pengantin wajib menghafal Tepuk Sakinah sebelum menikah. Kemenag menegaskan bahwa klaim tersebut tidak benar. Tepuk Sakinah bukan materi wajib hafal, melainkan metode agar materi pranikah tidak monoton dan lebih interaktif.
Beberapa daerah mungkin mengadopsi gerakan ini dalam bimbingan lokal, namun tetap tidak dijadikan syarat sah nikah. Fokus sebenarnya adalah pemahaman dan internalisasi nilai-nilai sakinah.
Harapan & Langkah ke Depan
Melalui fenomena ini, KUA diharapkan dapat terus mengembangkan inovasi dalam metode bimbingan pranikah agar lebih relevan dengan generasi muda. Penyajian materi yang interaktif dan penuh makna diyakini bisa meningkatkan efektivitas pembelajaran.
Pemerintah juga perlu memastikan bahwa instruktur Bimwin memiliki kompetensi dan pemahaman mendalam terhadap ajaran agama dan nilai keluarga agar tidak sekadar menjadi “tontonan viral”.
Bagi calon pengantin, Tepuk Sakinah dapat menjadi pengingat praktis ketika rumah tangga memasuki fase konflik: cukup melakukan gerakan sederhana dan mengingat syairnya agar kembali menyelaraskan komunikasi dan komitmen.
Fenomena Tepuk Sakinah yang viral menunjukkan bahwa pendidikan keluarga bisa dikemas dengan kreativitas agar lebih mudah diterima. Dengan makna mendalam dan cara sederhana, gerakan ini mampu menanamkan nilai-nilai penting dalam membangun rumah tangga sakinah. Meskipun tidak wajib, Tepuk Sakinah memberi warna baru dalam bimbingan pranikah di Indonesia — dari tren menjadi pengingat nilai bagi pasangan suami istri.