Purbaya Mulai Tancap Gas: Menilik Kinerja Awal Menteri Keuangan Pengganti Sri Mulyani
Jakarta —Sejak resmi dilantik pada 8 September 2025, Purbaya Yudhi Sadewa telah memulai kiprahnya sebagai Menteri Keuangan (Menkeu) baru untuk periode 2025–2029, menggantikan Sri Mulyani Indrawati.
Dalam rentang waktu beberapa minggu ini, publik dan pelaku ekonomi menaruh perhatian besar terhadap arah kebijakan fiskal, stabilitas keuangan, serta sinyal-sinyal perubahan gaya kepemimpinan di kementerian kunci ini. Berikut rangkuman kinerja awal Purbaya, tantangan yang dihadapi, serta ekspektasi yang berkembang.
Latar Belakang dan Gaya Kepemimpinan Baru
Purbaya Yudhi Sadewa bukan sosok baru di panggung birokrasi dan ekonomi Indonesia. Ia pernah menjabat Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sejak 2020 hingga pengangkatannya sebagai Menkeu. Sebelumnya, ia juga menjabat berbagai posisi strategis, seperti Deputi Kemenko Maritim dan Investasi, Staf Khusus di beberapa kementerian, dan sebagai ekonom senior di lembaga riset.
Profil akademik Purbaya pun menarik: lulusan Teknik Elektro ITB (S1), kemudian meraih gelar MSc dan PhD di bidang Ekonomi dari Purdue University, Amerika Serikat. Kombinasi latar teknik dan ekonomi ini memberikan sinyal bahwa ia mungkin akan mengedepankan pendekatan data-driven dan efisiensi teknis dalam kebijakan fiskal dan keuangan negara.
Sejak awal, Purbaya menunjukkan gaya komunikasi yang tegas dan “blak-blakan”. Salah satu contohnya: tanggapannya terhadap protes publik atas isu “17+8 demands” (17 usulan plus 8 poin tuntutan) yang sempat viral — ia menyebutkan bahwa tuntutan tersebut berasal “sebagian kecil masyarakat” yang belum sejahtera dan bahwa solusinya adalah percepatan pertumbuhan ekonomi. Pernyataan itu kemudian menuai kritik keras dari berbagai pihak.
Menanggapi kritik publik, Purbaya kemudian menyatakan permohonan maaf dan mengaku masih dalam proses belajar menyesuaikan diri sebagai menteri baru.
Klaim Stabilitas Ekonomi & Langkah Awal Kebijakan
Dalam sebuah pernyataan tertulis pada 22 September 2025, Kementerian Keuangan menjamin bahwa ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan di tengah gejolak global, dan bahwa pihaknya akan terus memperkuat basis fiskal untuk mendukung pertumbuhan.
Beberapa langkah kebijakan awal yang sudah atau mulai digodok antara lain:
- Memastikan kesinambungan pengelolaan utang negara agar tidak melewati ambang batas yang membahayakan.
- Menjaga agar defisit APBN tetap di koridor yang sehat, sambil tetap mengakomodasi stimulus yang dibutuhkan sektor produktif.
- Memperkuat koordinasi dengan bank sentral dan lembaga keuangan untuk menjaga stabilitas moneter dan kurs.
- Meningkatkan efisiensi belanja negara dan memperketat pengawasan realisasi anggaran.
Meskipun belum tampak kebijakan besar yang langsung mengguncang, sinyal-sinyal bahwa Purbaya akan mengedepankan pendekatan pragmatis dan pro-pertumbuhan mulai terasa, terutama dalam retorika dan pembacaan isu makro ekonomi.
Tantangan Besar yang Harus Dihadapi
Sebagai menteri baru di era tantangan global dan domestik yang kompleks, Purbaya menghadapi sejumlah ujian penting:
- Menjaga kredibilitas fiskal
Sri Mulyani dikenal sebagai simbol ketatnya pengendalian anggaran dan disiplin fiskal. Pergantian menteri tentu menimbulkan kekhawatiran pasar dan kalangan investor bahwa pendekatan “kendor” bisa muncul. - Restorasi kepercayaan publik
Isu-isu yang memicu protes publik (termasuk masalah belanja legislatif, insentif pajak, dan distribusi kesejahteraan) menuntut sikap transparan dan sensitif terhadap aspirasi rakyat. Pernyataan awal Purbaya sempat dipandang kurang berempati. - Memacu pertumbuhan ekonomi
Presiden Prabowo pernah menyuarakan target pertumbuhan sampai 8 %. Meskipun target itu ambisius, beban bagi Menkeu adalah bagaimana merancang kebijakan fiskal yang memberi ruang bagi stimulus produktif tanpa mengorbankan stabilitas makro. - Menjaga koordinasi dengan otoritas moneter dan lembaga negara
Sinergi antara Kemenkeu, Bank Indonesia, OJK, dan lembaga pengawas lain sangat menentukan efektivitas kebijakan — terutama di tengah tekanan eksternal seperti gejolak pasar dan fluktuasi komoditas. - Pelaksanaan reformasi struktural
Langkah-langkah seperti perbaikan sistem perpajakan, insentif investasi, reformasi belanja publik, dan pemangkasan birokrasi menjadi ujian nyata di tangan menteri baru ini.
Pandangan Pengamat & Respons Awal Pasar
Beberapa analis dan pengamat ekonomi sudah memberikan penilaian awal terhadap kinerja Purbaya:
- Menurut Reuters, pasar merespons penggantian Sri Mulyani dengan penurunan indeks saham dan sedikit perubahan kurs, menandakan adanya kekhawatiran pasar akan perubahan kebijakan.
- Reuters juga mencatat bahwa Purbaya dikenal sering vokal mengkritik lembaga internasional seperti IMF ketika merilis prediksi ekonomi, yang memberi gambaran bahwa ia tidak takut “konfrontasi” terhadap parameter global.
- Beberapa ekonom menyoroti bahwa Purbaya harus menunjukkan konsistensi dalam menjaga disiplin fiskal agar tidak kehilangan kepercayaan investor dalam jangka menengah dan panjang.
Secara internal, laporan Kemenkeu menyebut bahwa komunikasi dengan kementerian teknis dan daerah sedang diperkuat agar kebijakan fiskal dapat menyentuh ke daerah dan sektor riil.
Di Titik Awal, Harapan & Risiko Bertemu
Dalam waktu relatif singkat sejak pelantikan, Purbaya Yudhi Sadewa belum melakukan gebrakan besar, tetapi sudah memperlihatkan arah retorika dan strategi yang berbeda dari pendahulunya. Gaya yang lebih “langsung” dan janji mempercepat pertumbuhan akan menjadi sorotan utama ke depannya.
Keberhasilan Purbaya akan sangat bergantung pada kemampuannya menyeimbangkan tiga pilar: pertumbuhan ekonomi, disiplin fiskal, dan kepercayaan publik/investor. Bila salah satu pilar goyah, risiko implikasi makro seperti melonjaknya inflasi, defisit tak terkendali, atau penurunan rating kredit bisa muncul.
Kini, publik dan pasar menantikan langkah-langkah konkret dari Purbaya — terutama dalam RAPBN 2026, kebijakan pajak, belanja pemerintah, dan sinergi antarlembaga. Waktu akan membuktikan apakah menteri baru ini mampu membawa paradigma baru dan menjaga stabilitas dalam dinamika global yang tak pasti.