International

Pidato Panas Prabowo di PBB: Indonesia Siap Jadi Jembatan Dunia

New York — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, membuat gebrakan dalam pidato perdananya di Sidang Umum ke-80 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Di gedung megah Majelis Umum PBB, Prabowo menyuarakan visi Indonesia sebagai penjaga keadilan global, sekaligus menghadirkan prasyarat baru dalam isu Palestina-Israel dan perubahan iklim.

Berpidato pada urutan ketiga, setelah Presiden Brasil dan Presiden AS, Prabowo mengawali sambutannya dengan menyebut bahwa sebagai manusia, perbedaan agama, ras, dan kebangsaan tidak boleh memecah persatuan — semua manusia diciptakan setara.

Dukungan untuk Solusi Dua Negara

Salah satu poin yang paling mendapat sorotan adalah dukungan Prabowo terhadap Two-State Solution (solusi dua negara) dalam konflik Palestina-Israel. Menurutnya, perdamaian baru bisa tercapai jika hak Palestina diakui, tetapi sekaligus keselamatan Israel harus dijamin.

“Kita harus memiliki Palestina merdeka, tetapi kita juga harus mengakui dan menjamin keamanan Israel. Hanya dengan begitu kita dapat perdamaian sejati, tanpa kebencian dan kecurigaan,” tegasnya.

Kesiapan Kontribusi Nyata

Tak hanya berbicara, Presiden Prabowo menyatakan bahwa Indonesia siap ambil peran nyata dalam menjaga perdamaian dunia. Ia menyebut bahwa apabila PBB menghendaki, Indonesia bisa mengerahkan hingga 20.000 personel dalam misi penjaga perdamaian di Gaza maupun wilayah konflik lain.

Di sektor pangan, Prabowo juga menekankan bahwa Indonesia kini berada di titik tertinggi produksi beras dan cadangan pangan, bahkan mampu mengekspor ke negara-negara yang membutuhkan sebagai wujud solidaritas global.

Perubahan Iklim & Rencana Giant Sea Wall

Sadar bahwa Indonesia termasuk negara kepulauan terdampak langsung perubahan iklim, Prabowo menyampaikan rencana ambisius pembangunan giant sea wall (tembok laut raksasa) sepanjang 480 km. Ini didesain sebagai mitigasi kenaikan permukaan laut, terutama di pesisir utara ibukota yang mengalami kenaikan sekitar 5 cm per tahun.

Lebih jauh, ia menggarisbawahi komitmen Indonesia untuk beralih ke energi terbarukan, mereboisasi 12 juta hektar lahan terdegradasi, dan menargetkan net zero emissions pada 2060 — atau bahkan lebih cepat.

Multilateralisme & Solidaritas Kemanusiaan

Dalam pidatonya, Prabowo menyebut bahwa dunia sedang diuji oleh konflik, ketidakadilan dan ketidakpastian. Ia menyerukan agar manusia tidak menyerah terhadap kebencian dan rasa takut, serta mengajak pemimpin dunia bertindak dengan kebijaksanaan — bukan sekadar retorika.

Pencitraan Internasional

Sebagai pidato perdana di forum PBB, penampilan Prabowo ini secara simultan mengangkat posisi diplomatik Indonesia dan memperkuat citra sebagai negara moderat yang ingin jadi “jembatan” antara dunia Muslim dan Barat. Urutan ketiga memberi saat yang strategis untuk berpidato di hadapan pemimpin dunia.

Tanggapan Dunia

Reaksi tak lama datang: Presiden AS Donald Trump secara terbuka memuji pidato Prabowo, menyebutnya “pekerjaan yang hebat” dan memuji cara Prabowo mengetukkan tangan saat menyampaikan poin penting.

Pujian seperti ini tak hanya berdampak pada persepsi dalam negeri, tapi juga memberi bobot diplomatik di arena global.

Tantangan dan Kritis

Namun, tidak semua akan mulus. Beberapa tantangan yang perlu diperhatikan:

  • Konsistensi aksi nyata: Pernyataan kesiapan mengirim pasukan ataupun kontribusi finansial harus disertai kesiapan logistik, dana, dan dukungan internasional.
  • Tindakan di konflik Palestina: Solusi dua negara telah lama jadi debat internasional; Indonesia harus memastikan perannya tidak sekadar simbolik.
  • Biaya & teknis pembangunan tembok laut: Rencana giant sea wall menghadapi tantangan teknis, keuangan, dan dampak lingkungan lokal.
  • Impak domestik: Publik dalam negeri akan menilai apakah pidato ini berdampak pada kebijakan dalam negeri, terutama sektor pangan, iklim, dan pertumbuhan ekonomi.

Pidato Prabowo di PBB bukan sekadar sambutan, melainkan peta jalan diplomasi masa depan Indonesia. Dengan tema keadilan, solidaritas, dan perubahan iklim, ia mencoba menawarkan identitas baru: Indonesia sebagai negara yang bersuara produktif di forum dunia.

Namun, seperti semua ambisi diplomatik, kata-kata yang lantang di lantai PBB harus diimbangi oleh tindakan konkret. Dunia akan menunggu langkah berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *