Ekonomi & Bisnis

Indonesia Tumbuh 5 Persen di Tahun 2025: Tantangan dan Peluang di Balik Angka

Jakarta, 7 November 2025 — Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis kabar menggembirakan: ekonomi Indonesia tumbuh 5,12 persen year-on-year pada triwulan II 2025, melanjutkan tren positif dari semester pertama tahun ini. Angka ini menandakan ketahanan ekonomi nasional di tengah situasi global yang tidak menentu — mulai dari perang dagang hingga tekanan inflasi di kawasan Asia.

Menurut Plt Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, kontribusi terbesar pertumbuhan berasal dari sektor manufaktur (19,4 %), perdagangan (16,2 %), dan konstruksi (10,8 %). “Peningkatan konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah menjadi faktor utama pendorong ekonomi kita,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (4/11).

Namun, angka pertumbuhan ini juga membawa pekerjaan rumah besar. Sektor ekspor-impor masih tertekan akibat permintaan global yang melambat. Inflasi tahunan bertahan di level 3,1 %, relatif stabil, namun harga pangan dan energi tetap menjadi tantangan.

Sinyal Optimisme dari Pasar Domestik

Meski ekonomi global menghadapi risiko resesi teknis, Indonesia tampak menonjol berkat kekuatan konsumsi domestik. Menurut data Kementerian Keuangan, lebih dari 56 % pertumbuhan nasional disumbang oleh daya beli masyarakat kelas menengah. “Kuncinya adalah menjaga momentum konsumsi sambil mendorong investasi baru,” kata Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan.

Indikator lain yang menegaskan optimisme adalah meningkatnya penyerapan tenaga kerja di sektor industri dan logistik. Data Kementerian Perindustrian mencatat 130 ribu lapangan kerja baru tercipta sepanjang semester I 2025 — tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Investasi Asing Mulai Pulih

Masuknya investasi asing (FDI) juga menjadi katalis. Menurut BKPM, realisasi investasi mencapai Rp 401 triliun pada kuartal II, naik 7,2 % dibanding tahun sebelumnya. Sektor manufaktur dan energi terbarukan menjadi magnet utama, terutama proyek pengolahan nikel dan panel surya di Sulawesi dan Kalimantan.
“Investor mulai melihat Indonesia bukan hanya pasar, tetapi mitra strategis,” ujar Bahlil Lahadalia, Kepala BKPM.

Tantangan di Depan Mata

Meski capaian positif, pemerintah harus waspada terhadap defisit transaksi berjalan yang melebar menjadi 1,7 % PDB. Selain itu, tekanan dari penguatan dolar AS berpotensi menekan nilai tukar rupiah.
Ekonom Indef, Bhima Yudhistira, menilai bahwa kualitas pertumbuhan harus ditingkatkan: “Kita butuh pertumbuhan yang menciptakan pekerjaan berkualitas, bukan sekadar angka makro.”

Dengan pertumbuhan di atas 5 %, Indonesia menunjukkan daya tahan ekonomi luar biasa. Namun, tantangan global menuntut strategi jangka panjang — transformasi industri, diversifikasi ekspor, dan digitalisasi UKM. Pertumbuhan ini bukan akhir, melainkan awal dari babak baru ekonomi Indonesia yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *