Trend

Dari Gaya Hidup Hemat Hingga Filantropi Digital, Generasi Muda Mendikte Pasar Sosial

JAKARTA, (1 Oktober 2025) – Tahun 2025 menjadi momentum pergeseran mendasar dalam gaya hidup, konsumsi, dan interaksi sosial di Indonesia. Didominasi oleh pengaruh Generasi Z (Gen Z), tren saat ini menunjukkan adanya kombinasi unik antara estetika visual yang cepat berubah, kesadaran lingkungan, dan transformasi digital yang mendalam dalam ranah filantropi. Rubrik TREND kali ini mengupas tiga fenomena sosial dan digital yang paling dominan, mengukuhkan posisi kaum muda sebagai penentu pasar dan budaya di Indonesia.

1. THRIFTING BUKAN SEKADAR HEMAT: MANIFESTASI KEBERLANJUTAN

Fenomena thrifting (berbelanja barang bekas) telah mencapai puncaknya, melampaui sekadar solusi ekonomi. Bagi Gen Z dan milenial, thrifting kini menjelma menjadi gaya hidup yang multi-dimensi yang diinterpretasikan sebagai aksi nyata terhadap isu keberlanjutan.

A. Perpaduan Gaya dan Etika

Sebuah penelitian kualitatif pada mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Gorontalo (FIS UNG) menunjukkan bahwa interpretasi terhadap thrifting bervariasi. Sebagian melihatnya sebagai cara untuk tetap modis sambil berhemat, sementara yang lain menganggapnya sebagai bentuk kontribusi terhadap kelestarian lingkungan dengan memanfaatkan pakaian yang sudah ada.

Hasil penelitian ini memperkuat narasi bahwa thrifting bukanlah tren sesaat, melainkan sebuah respons kolektif terhadap dampak fast fashion. Kaum muda semakin menyadari jejak karbon yang dihasilkan oleh industri pakaian baru, menjadikan barang bekas sebagai pilihan etis. Aspek lain yang mendorong popularitas thrifting adalah munculnya komunitas thrift yang mengadakan acara dan membangun personal branding seputar mode berkelanjutan, seperti dilaporkan dalam penelitian tersebut.

B. Estetika dan Narsisme Positif

Selain alasan etis, thrifting juga didorong oleh aspek estetika digital. Barang vintage yang didapatkan melalui thrifting sering kali sesuai dengan estetika visual yang sedang tren di media sosial, seperti Y2K atau dark academia. Hal ini selaras dengan tren media sosial 2025 yang menuntut kreativitas sebagai kunci dalam konten singkat berbasis video dan estetika visual tertentu (RRI, 30 September 2025).

2. SOSIAL MEDIA BERALIH KE KUALITAS HIDUP: SELF-CARE ADALAH KONTEN

Media sosial, yang sebelumnya sering dikritik sebagai panggung flexing (pamer kekayaan), kini mengalami pergeseran ke arah otentisitas dan validasi self-care atau perawatan diri. Aktivitas yang berorientasi pada kesehatan dan keseimbangan kini menjadi konten yang dominan.

A. Berbagi Aktivitas Fisik Bukan Sekadar Pamer

Pontianak Post (1 Oktober 2025) mengulas bahwa Gen Z semakin rajin mengunggah aktivitas olahraga di media sosial. Fenomena ini diartikan bukan semata-mata sebagai flexing. Sebaliknya, kegiatan mendokumentasikan aktivitas fisik, seperti di gym atau jogging, menjadi cara untuk memotivasi diri sendiri dan membangun komunitas yang saling mendukung untuk hidup sehat. Unggahan ini berfungsi sebagai jurnal progress yang dapat diakses publik, menjadikannya alat akuntabilitas diri.

B. Ngopi sebagai Ritual Relaksasi

Tren gaya hidup modern juga diperkuat oleh ritual sosial, seperti ngopi (minum kopi) yang telah menjadi budaya tak terpisahkan dari gaya hidup modern Gen Z dan milenial. Radar TV (26 September 2025) menyoroti bahwa ngopi kini berada di persimpangan antara tren sosial dan relaksasi. Tempat kopi menjadi ruang komunal yang penting untuk interaksi sosial yang otentik, di tengah tuntutan produktivitas yang tinggi.

3. NOCTOURISM DAN FILANTROPI DIGITAL: TREN EKSPERIENTAL

Dua tren lain yang menunjukkan pergeseran perilaku konsumen dan sosial adalah dalam sektor pariwisata dan donasi, di mana pengalaman dan kemudahan digital menjadi prioritas.

A. Petualangan Malam Hari (Noctourism)

Sektor pariwisata Indonesia diprediksi akan diramaikan oleh Noctourism pada tahun 2025. Tren ini berfokus pada pengalaman unik pada malam hari, menjauhi keramaian siang hari. CNBC Indonesia (13 Januari 2025), mengutip studi global oleh Booking.com, menobatkan Noctourism sebagai tren perjalanan teratas tahun 2025. Wisata ini mencakup kegiatan seperti berburu pemandangan kosmik, mengamati bintang, atau menikmati perjalanan malam yang tenang, seperti yang ditawarkan oleh layanan kereta api modern di Jawa yang menyajikan pemandangan malam hari yang indah (YouTube Channel ‘Abby and Logan Travel’).

B. Filantropi yang Digamifikasi

Di ranah sosial, filantropi digital kini didorong oleh Gen Z melalui mekanisme baru. Suara.com (28 September 2025) melaporkan bahwa tren ini didominasi oleh gamifikasi, live streaming donasi, dan campaign tematik. Generasi muda semakin aktif berdonasi, termasuk melalui wakaf online. Fenomena ini menunjukkan bahwa kemudahan akses digital memungkinkan dampak kecil dari individu dikumpulkan menjadi gerakan filantropi yang besar dan transparan.

Tren 2025 menegaskan bahwa generasi muda tidak hanya mengikuti, tetapi secara aktif mendikte perubahan budaya dan pasar melalui pilihan hidup yang lebih sadar lingkungan, fokus pada kesehatan mental, dan pemanfaatan teknologi untuk pengalaman yang lebih bermakna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *