Gen Z Melawan Burnout dan Konsumerisme
Jakarta, Tekanan akademis, tuntutan pekerjaan yang fleksibel, serta hiruk pikuk media sosial telah menempatkan Generasi Z (Gen Z) pada risiko burnout (kelelahan ekstrem) tertinggi. Menanggapi tantangan ini, tren gaya hidup dan strategi self-care (perawatan diri) baru muncul, dengan gaya hidup minimalis dan teknik grounding menjadi solusi populer bagi kaum muda untuk meraih ketenangan dan keseimbangan.
1. Strategi Gen Z Mengatasi Burnout Akademik dan Stres Digital
Burnout tidak lagi hanya terjadi di lingkungan kerja, tetapi juga menjangkiti mahasiswa dan pelajar Gen Z akibat tekanan untuk selalu produktif dan unggul.
A. Menggunakan Teknik Grounding
Salah satu temuan paling efektif dalam manajemen stres di kalangan mahasiswa Gen Z adalah penerapan teknik grounding 5-4-3-2-1. Sebuah studimenunjukkan bahwa teknik sederhana yang melibatkan kelima indra ini mampu menurunkan tingkat kecemasan secara signifikan.
Cara Kerja Teknik 5-4-3-2-1:
Saat serangan panik atau kecemasan datang, fokuskan pikiran pada lingkungan sekitar dengan menyebutkan:
- 5 hal yang bisa Anda lihat (warna, bentuk objek, dll.).
- 4 hal yang bisa Anda sentuh atau rasakan (tekstur pakaian, suhu udara, dll.).
- 3 hal yang bisa Anda dengar (suara jam, musik, lalu lintas, dll.).
- 2 hal yang bisa Anda cium (aroma kopi, parfum, tanah, dll.).
- 1 hal yang bisa Anda rasakan di lidah atau di dalam tubuh.
B. Journaling sebagai Terapi Ekspresif
Aktivitas journaling kini bukan sekadar menulis buku harian, tetapi berkembang menjadi media ekspresi seperti bullet journal dan gratitude journal. Seperti dilaporkan Radar Tulungagung, kegiatan ini menggabungkan mindfulness dan kreativitas, membantu Gen Z memproses emosi dan mengurangi beban pikiran.
C. Membatasi “Ekonomi Perhatian” di Media Sosial
Untuk mengatasi tekanan sosial media, banyak Gen Z mulai sadar untuk menerapkan detoks digital dan mengurangi konsumsi konten yang memicu perbandingan sosial (FOMO) dan citra diri yang tidak realistis. Mereka fokus pada hubungan sosial yang lebih bermakna di dunia nyata.
2. Tips Praktis Memulai Gaya Hidup Minimalis
Gaya hidup minimalis semakin diminati karena menawarkan jalan keluar dari budaya konsumtif, memberikan ketenangan mental, dan kesehatan finansial yang lebih baik. Bagi Gen Z, minimalisme adalah tentang memiliki barang yang memberi nilai dan kebahagiaan (less is more), bukan sekadar memiliki sedikit barang.
Berikut adalah tips cerdas untuk Gen Z dalam menerapkan minimalisme, dirangkum dari berbagai sumber gaya hidup.
| Langkah Minimalis | Penjelasan Praktis untuk Gen Z |
| 1. Kurasi Barang (Decluttering) | Buat Capsule Wardrobe: Miliki sedikit pakaian dengan warna dasar yang mudah dipadupadankan (monokrom). Sisihkan atau jual barang-barang yang tidak terpakai atau tidak memberikan nilai emosional positif (Beautynesia). |
| 2. Prioritaskan Pengalaman | Experience over Material: Alokasikan uang untuk perjalanan, eksplorasi tempat baru, atau makan bersama teman, daripada membeli barang-barang fast fashion atau gawai terbaru. Pengalaman menciptakan memori, bukan kekacauan. |
| 3. Bijak dalam Konsumsi Konten | Beli Digital, Bukan Fisik: Jika Anda seorang pembaca, prioritaskan membeli buku digital daripada fisik. Hal ini menghemat ruang dan menunjang prinsip less is more. |
| 4. Kelola Keuangan Sederhana | Financial Minimalism: Buat anggaran yang sederhana dan realistis. Fokus pada pembelian barang berkualitas dan bernilai jangka panjang untuk menghindari pengeluaran berulang. Sebisa mungkin, hindari utang. |
| 5. Berlatih Bersyukur (Gratitude) | Refleksi Harian: Di penghujung hari, tuliskan hal-hal sederhana yang Anda syukuri. Hal ini membantu mengapresiasi apa yang sudah dimiliki, mengurangi keinginan belanja berlebihan, dan menciptakan ketenangan batin. |
Dengan mengadopsi kedua pendekatan ini—manajemen stres yang spesifik dan gaya hidup yang lebih sederhana—Gen Z menunjukkan bahwa mereka berjuang untuk menguasai kembali fokus dan kesejahteraan diri di tengah dunia yang serba cepat dan menuntut.