Generasi Z Prioritaskan Kesehatan Mental dan Well-being dalam Kehidupan Modern
Jakarta, 10 Juni 2025 — Generasi Z atau yang kerap disebut sebagai digital natives semakin menunjukkan kepedulian yang tinggi terhadap isu kesehatan mental dan keseimbangan hidup. Hasil survei terbaru dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengungkapkan bahwa lebih dari 65 persen Gen Z secara aktif mencari layanan konseling, menggunakan aplikasi kesehatan mental, atau bergabung dalam komunitas dukungan psikologis untuk menjaga kesejahteraan diri mereka. Fenomena ini menandai pergeseran besar dalam cara generasi muda memandang kualitas hidup, di mana kesehatan mental ditempatkan setara pentingnya dengan kesehatan fisik.
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa tren tersebut merupakan hal positif yang harus direspons dengan kebijakan yang tepat. “Fenomena ini menunjukkan bahwa Generasi Z memiliki kesadaran yang tinggi akan pentingnya kesehatan mental. Pemerintah berkomitmen memperkuat layanan konseling di sekolah, kampus, serta layanan digital yang mudah diakses oleh anak muda. Kesehatan mental adalah fondasi dari produktivitas dan kualitas hidup, sehingga harus menjadi bagian integral dari kebijakan kesehatan nasional,” ujarnya.
Generasi Z, yang saat ini berada pada rentang usia 12 hingga 29 tahun, tumbuh dalam lingkungan yang serba cepat, kompetitif, dan penuh tantangan. Tekanan akademik, tuntutan sosial, hingga paparan intensif terhadap media digital membuat mereka lebih rentan terhadap stres, kecemasan, bahkan depresi. Namun, berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z memiliki keberanian untuk terbuka membicarakan isu kesehatan mental yang sebelumnya dianggap tabu. Mereka mencari cara yang lebih modern untuk mengatasi masalah psikologis, mulai dari memanfaatkan teknologi hingga membangun jaringan komunitas yang saling mendukung.
Psikolog klinis, Dr. Andini Putri, menjelaskan bahwa kesadaran ini lahir dari perubahan paradigma yang dibawa oleh era digital. “Gen Z tumbuh dalam era serba cepat dengan tekanan akademik, sosial, dan digital. Namun mereka juga generasi yang berani terbuka membicarakan isu kesehatan mental, yang sebelumnya sering dianggap tabu. Keterbukaan ini menjadi langkah penting dalam menghapus stigma dan mendorong lebih banyak orang untuk mencari bantuan ketika mereka membutuhkannya,” terangnya.
Selain itu, peran teknologi juga tidak bisa diabaikan. Aplikasi kesehatan mental berbasis digital kini semakin populer di kalangan Gen Z. Melalui aplikasi tersebut, mereka bisa mengakses layanan konseling secara daring, melakukan meditasi terpandu, hingga memantau kondisi emosional harian. Teknologi dianggap sebagai solusi praktis yang sesuai dengan gaya hidup Gen Z yang serba cepat dan berbasis digital. Namun, para ahli mengingatkan bahwa meskipun teknologi membantu, interaksi langsung dengan tenaga profesional tetap diperlukan untuk kasus yang lebih serius.
Pemerintah, melalui Kementerian Kesehatan, telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk mendukung kebutuhan ini. Salah satunya adalah penguatan layanan Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dengan menambahkan konselor profesional, serta memperluas akses layanan konseling gratis di perguruan tinggi. Selain itu, pemerintah juga bekerja sama dengan berbagai startup teknologi untuk memastikan aplikasi kesehatan mental yang beredar memiliki standar keamanan dan kualitas yang memadai.
Dari sisi masyarakat, kesadaran yang semakin tumbuh di kalangan Gen Z mendorong lahirnya komunitas-komunitas independen yang berfokus pada kesehatan mental. Komunitas ini hadir dalam bentuk kelompok diskusi daring, forum berbagi pengalaman, hingga kegiatan tatap muka yang memberikan ruang aman bagi anak muda untuk mengekspresikan diri tanpa rasa takut akan stigma. Kehadiran komunitas semacam ini sangat membantu memperkuat rasa solidaritas dan dukungan sosial, yang merupakan faktor penting dalam menjaga kesehatan mental.
Meski demikian, sejumlah tantangan tetap perlu dihadapi. Salah satunya adalah kesenjangan akses antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Banyak anak muda di daerah masih kesulitan mengakses layanan konseling profesional maupun aplikasi digital karena keterbatasan infrastruktur internet. Oleh karena itu, pemerintah menargetkan perluasan jaringan layanan kesehatan mental berbasis komunitas yang dapat menjangkau daerah-daerah terpencil.
Pengamat sosial generasi, Dr. Rhenald Kasali, menilai bahwa perhatian Gen Z terhadap kesehatan mental membawa dampak positif yang lebih luas. “Kesehatan mental bukan hanya tentang individu, tetapi juga menyangkut produktivitas bangsa. Generasi Z yang sehat secara mental akan lebih mampu berkontribusi pada inovasi, ekonomi kreatif, dan kepemimpinan di masa depan. Kesadaran mereka akan menjadi modal sosial yang sangat penting bagi Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045,” ungkapnya.
Dengan meningkatnya kesadaran ini, diharapkan muncul budaya baru yang lebih terbuka terhadap isu kesehatan mental. Budaya yang mendorong setiap individu, tanpa memandang usia atau latar belakang, untuk berani mencari pertolongan ketika menghadapi masalah psikologis. Generasi Z telah membuka jalan, dan kini tantangannya adalah bagaimana seluruh elemen bangsa — pemerintah, dunia pendidikan, sektor swasta, dan masyarakat — dapat bekerja sama untuk menciptakan ekosistem yang sehat, produktif, dan inklusif.
Kesadaran Generasi Z dalam memprioritaskan kesehatan mental dan well-being menjadi salah satu indikator penting perubahan sosial di Indonesia. Dengan dukungan kebijakan publik yang tepat, penguatan layanan kesehatan, serta keterlibatan komunitas, langkah yang ditempuh generasi ini dapat menjadi tonggak penting dalam menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera, resilien, dan siap menghadapi tantangan global